Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Visa-Mastercard, Dominasi Sistem Pembayaran AS Terancam

Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Visa-Mastercard, Dominasi Sistem Pembayaran AS Terancam
Ilustrasi. Foto: Dunia Mulai Kurangi Ketergantungan pada Visa-Mastercard, Dominasi Sistem Pembayaran AS Terancam

Dominasi perusahaan pembayaran asal Amerika Serikat, Visa dan Mastercard, mulai menghadapi tantangan semakin serius. Sejumlah negara dan kawasan kini mempercepat pembangunan sistem pembayaran domestik maupun lintas batas sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan finansial dan mengurangi ketergantungan terhadap infrastruktur pembayaran yang dikendalikan perusahaan AS.

Perubahan tersebut tidak hanya berlangsung di negara-negara berkembang. Eropa juga semakin serius mencari alternatif setelah ketegangan geopolitik meningkatkan kekhawatiran mengenai ketergantungan terhadap jaringan pembayaran asing. Salah satu langkah utama adalah pengembangan euro digital yang diarahkan untuk memperkuat kemandirian sistem pembayaran kawasan tersebut.

Inggris juga mulai menyoroti ketergantungan terhadap infrastruktur pembayaran milik perusahaan Amerika. Mastercard bahkan tengah mempertimbangkan penjualan saham mayoritas Vocalink, perusahaan yang menopang sejumlah infrastruktur pembayaran penting di Inggris, di tengah kekhawatiran pemerintah dan bank sentral mengenai kendali asing terhadap aset strategis tersebut.

Tekanan terhadap dominasi sistem keuangan Barat juga datang dari kelompok BRICS. Negara-negara anggota semakin aktif membahas alternatif pembayaran lintas batas dan penggunaan mata uang lokal. Ekonom Jim O’Neill, pencetus istilah BRIC, menilai pengembangan alternatif terhadap sistem yang didominasi dolar AS kini semakin realistis seiring kemajuan teknologi pembayaran.

Berbagai sistem pembayaran domestik yang berkembang pesat turut memperkuat tren tersebut. India memiliki Unified Payments Interface (UPI), China mengembangkan ekosistem pembayaran dan CIPS, sementara sejumlah negara lain membangun jaringan nasional untuk mengurangi ketergantungan pada infrastruktur pembayaran internasional.

Indonesia juga memiliki fondasi sendiri melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) dan QRIS. Pengembangan konektivitas pembayaran lintas negara menjadi bagian dari upaya memperluas penggunaan sistem pembayaran berbasis infrastruktur domestik sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi regional.

Meski demikian, Visa dan Mastercard belum kehilangan dominasinya secara langsung. Kedua perusahaan masih memiliki jaringan global yang luas, penerimaan merchant yang besar, teknologi matang, dan skala bisnis yang sulit ditandingi dalam waktu singkat. Sistem-sistem alternatif yang bermunculan juga lebih tepat dilihat sebagai upaya diversifikasi daripada pengganti penuh dalam waktu dekat.

Namun, arah perubahan mulai terlihat. Sistem pembayaran kini tidak lagi sekadar persoalan teknologi dan kenyamanan transaksi, tetapi juga menyangkut keamanan ekonomi dan kedaulatan finansial. Semakin banyak negara membangun jalur pembayaran sendiri, semakin besar pula tantangan terhadap posisi Visa dan Mastercard sebagai dua pemain utama industri pembayaran global.

+ posts

Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang berdedikasi, dengan minat besar pada gaya hidup, budaya, dan tren terkini. Jessie menghadirkan konten yang menarik dan informatif untuk membantu pembaca menemukan ide-ide baru, mendapatkan wawasan bermanfaat, dan terhubung dengan cerita yang bermakna.