
Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memunculkan kekhawatiran mengenai potensi perpindahan besar-besaran konsumen ke Pertalite. Namun, Kepala Badan Pengelola Investasi Danantara Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi tersebut tidak akan terjadi secara otomatis.
Menurut Purbaya, perilaku konsumen dalam memilih bahan bakar dipengaruhi banyak faktor. Harga memang menjadi pertimbangan penting, tetapi kebutuhan kendaraan dan preferensi pengguna juga memiliki peran besar dalam menentukan pilihan.
Sebagian pemilik kendaraan tetap membutuhkan bahan bakar dengan spesifikasi tertentu yang sesuai dengan rekomendasi pabrikan. Karena itu, tidak semua pengguna Pertamax akan langsung beralih ke jenis BBM yang lebih murah setelah terjadi penyesuaian harga.
Pemerintah saat ini terus memantau perkembangan konsumsi bahan bakar pasca kenaikan harga Pertamax. Pengawasan dilakukan untuk melihat dampaknya terhadap pola konsumsi energi masyarakat serta beban subsidi yang ditanggung negara.
Kenaikan harga Pertamax sendiri merupakan bagian dari penyesuaian yang mengikuti kondisi pasar energi global. Sebagai produk nonsubsidi, harga Pertamax dipengaruhi berbagai faktor, termasuk harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara keberlanjutan fiskal dan kebutuhan masyarakat terhadap energi yang terjangkau. Karena itu, evaluasi terhadap kebijakan energi akan terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi ekonomi.
Purbaya optimistis masyarakat akan mengambil keputusan secara rasional dalam memilih bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing tanpa harus sepenuhnya bergantung pada faktor harga semata.
Shama is a Content Specialist and News Writer with 4.5+ years of experience in journalism, press release writing, SEO content, and digital publishing. She covers business, technology, blockchain, cryptocurrency, finance, and corporate communications, delivering research-driven content for media platforms and global audiences.




