
JAKARTA, SEPEKAN TERKINI – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan bahwa ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengalami penyusutan drastis pada Minggu (23/8/2026). Penurunan debit air alami di kanal, embung, dan sungai-sungai kecil ini menjadi tantangan berat yang memperumit kerja tim satgas gabungan dalam memadamkan kobaran api di lahan gambut yang mengering.
Menyusutnya cadangan air terjadi seiring masuknya sebagian besar wilayah Indonesia ke fase puncak musim kemarau. Situasi ini berdampak langsung terhadap efektivitas operasi pemadaman di darat maupun operasi pengeboman air dari udara (water bombing) di provinsi-provinsi prioritas rawan karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
Dampak Kemarau Ekstrem terhadap Pasokan Air Alami
BNPB mencatat bahwa tingginya intensitas panas matahari dan minimnya curah hujan selama beberapa pekan terakhir telah mempercepat laju penguapan air di permukaan tanah. Banyak kanal primer dan sekunder di kawasan kubah gambut yang sebelumnya menjadi andalan pasokan air kini mulai mengering hingga menyisakan lumpur dasar.
Kondisi serupa dialami oleh embung-embung penampungan air buatan dan anak sungai di sekitar area konsesi maupun hutan lindung.
Menyusutnya air tanah membuat lapisan gambut atas menjadi sangat kering, rapuh, dan rentan terbakar hingga ke kedalaman beberapa meter di bawah permukaan (subsurface fire).
Ketiadaan pasokan air di sekitar titik kebakaran memaksa petugas bekerja ekstra keras untuk mencari alternatif pasokan air dari lokasi yang lebih jauh.
Efisiensi Heli Water Bombing dan Hambatan Pasukan Darat
Kelangkaan sumber air berdampak signifikan pada durasi siklus penjatuhan air oleh armada helikopter water bombing. Pilot helikopter kini harus memperluas radius jelajah pencarian titik pengambilan air (water scooping) menuju sungai-sungai besar atau danau yang lokasinya berjarak puluhan kilometer dari koordinat kebakaran aktif.
Peningkatan jarak tempuh tersebut secara otomatis memperpanjang waktu putar (turnaround time) antar-penjatuhan air, sehingga intensitas pendinginan bara api berkurang.
Sementara itu, tim satgas pemadam darat seperti Manggala Agni dan TNI-Polri menghadapi kendala keterbatasan panjang selang pemadam saat menyedot air menuju titik api di pedalaman hutan.
Untuk mengatasi hal tersebut, personel di lapangan mulai mengandalkan pengeboran sumur darurat dan pemasangan tandon air lipat (collapsible tank) yang disuplai secara bergilir oleh truk tangki air.
Optimalisasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk Pembasahan
Guna mengatasi keterbatasan air di darat, BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI AU terus memacu Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Pesawat-pesawat penyemai diterbangkan untuk menaburkan garam higroskopis pada formasi awan kumulus potensial yang melintas di atas wilayah tangkapan air dan kubah gambut.
Intervensi hujan buatan diprioritaskan untuk membasahi kembali (rewetting) ekosistem gambut yang mengering serta mengisi kembali kantong-kantong air alami di darat.
Meskipun potensi awan hujan kian menipis di puncak kemarau, pemanfaatan radar cuaca dilakukan secara presisi guna memanfaatkan setiap peluang awan konvektif yang terbentuk.
BNPB berharap operasi TMC dapat menaikkan kembali tinggi muka air tanah gambut sehingga bara api di bawah tanah dapat padam secara tuntas.
Penguatan Sekat Kanal dan Patroli Pencegahan Titik Api
Selain intervensi teknis, BNPB menekankan bahwa pencegahan dini di tingkat tapak merupakan kunci paling efektif di tengah menipisnya sumber air. Pengaktifan dan penutupan pintu-pintu sekat kanal (canal blocking) dioptimalkan guna menahan laju penurunan air gambut agar tetap lembap.
Satgas gabungan memperketat patroli darat dan udara terpadu untuk mendeteksi kemunculan asap sedini mungkin sebelum api menjalar meluas.
Aparat penegak hukum turut mempertegas larangan pembukaan lahan dengan cara membakar (zero burning) bagi masyarakat dan korporasi.
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan diimbau untuk segera melaporkan setiap indikasi titik api kepada aparat posko penanggulangan bencana terdekat.
Peringatan BNPB mengenai menyusutnya sumber air di wilayah rawan karhutla menjadi alarm penting bagi penanganan darurat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Melalui kombinasi rekayasa modifikasi cuaca, pencarian sumber air darurat, pemeliharaan sekat kanal gambut, serta disiplin patroli pencegahan di tingkat tapak, satgas gabungan diharapkan mampu mengatasi tantangan alam ini demi menjaga langit nusantara tetap terbebas dari ancaman bencana kabut asap.
Jessie Evelyn Kartadjaja adalah seorang penulis dan kreator konten yang berdedikasi, dengan minat besar pada gaya hidup, budaya, dan tren terkini. Jessie menghadirkan konten yang menarik dan informatif untuk membantu pembaca menemukan ide-ide baru, mendapatkan wawasan bermanfaat, dan terhubung dengan cerita yang bermakna.
